Arsip Kategori: hikmah

Dua Saku Yang Berbeda

dua saku yang berbeda

Hikmah – Alkisah, ada seseorang yang sangat menikmati kebahagiaan dan ketenangan di dalam hidupnya. Orang tersebut mempunyai dua tas. Pada saku yang satu terdapat lubang di bawahnya, tapi pada saku yang lainnya tidak terdapat lubang.

Segala sesuatu yang menyakitkan yang pernah didengarnya seperti makian dan sindiran, ditulisnya di sebuah kertas, digulung kecil, kemudian dimasukkannya ke dalam saku yang berlubang.

Tetapi semua yang indah, benar, dan bermanfaat, ditulisnya di sebuah kertas kemudian dimasukkannya ke dalam saku yang tidak ada lubangnya.

Pada malam hari, ia mengeluarkan semua yang ada di dalam saku yang tidak berlubang, membacanya, dan menikmati hal-hal indah yang sudah diperolehnya sepanjang hari itu. Kemudian ia merogoh saku yang ada lubangnya, tetapi ia tidak menemukan apa pun.

Maka ia pun tertawa dan tetap bersukacita karena tidak ada sesuatu yang dapat merusak hati dan jiwanya.

***

Sobat… Itulah yang seharusnya kita lakukan dalam kehidupan yang kita jalani ini. Menyimpan semua yang baik di “Saku yang tidak berlubang”, sehingga tidak satupun yang baik akan hilang dari hidup kita.

Sebaliknya, simpanlah semua hal buruk yang terjadi pada kehidupan kita di “Saku yang berlubang”, maka kemudian hal yang buruk itu akan terjatuh dan tidak perlu kita ingat kembali.

Kendati demikan, masih banyak diantara kita yang melakukan hal tersebut berbalik-balik, kita menyimpan semua hal yang baik di “Saku yang berlubang”, dan yang tidak baik di “Saku yang tidak berlubang” (memelihara pikiran-pikiran jahat dan segala sesuatu yang menyakitkan hati). Maka ketahuilah sobat, jiwa kita akan menjadi tertekan dan tidak ada gairah dalam menjalani hidup.

Maka dari itu, agar kita bisa menikmati kehidupan yang bahagia dan tenang: janganlah menyimpan apa yang tidak baik di dalam hidup kehidupan kita, biarkan dia sirna jauh dari tatapan mata kita, sehingga tidak satupun dari kita yang tidak merasakan ketenangan spiritual. Mari kita sama-sama menyimpan yang baik-baik agar dapat bermanfaat bagi kita dan umat esok harinya.

sumber :http://www.akhbarislam.com/2013/12/cerita-hikmah-dua-saku-yang-berbeda.html

Iklan

Memunda Pekerjaan sama dengan Membuat Waktu

cerita-islami-Memunda-Pekerjaan-sama-dengan-Membuat-Waktu

Hikmah – seorang menteri mengeluh atas pekerjaan yang dilakukan seorang amirul mukminin, Umar bin Abdul Azis. Dalam kesehariannya, umar melakukan semua tugas kenegaraanya hingga larut malam. Padahal, waktu yang disediakan hanya sampai ba’da Maghrib (waktu setelah Maghrib).

Suatu hari, sang menteri memberanikan diri menyapa Umar, “wahai Amirul Mukminin, hendaknya berhentilah dari pekerjaan itu sejenak. Bukankah esok hari bisa dilanjutkan?” Mendengar sapaan tersebut, Umar menjawab, “Wahai Menteri, hendaknya pekerjaan itu tidak ditunda-tunda. Selesaikanlah sampai tuntas. Bukankah esok hari banyak pekerjaan baru yang mesti kita selesaikan juga”

Sang menteri tertunduk malu dengan jawaban yang keluar dari mulut umar’ karena ia sering mengulur-ulur pekerjaan. Ia pun berkata kepada Umar “Wahai Amirul Mukminin’ apa yang diucapkan benar adanya,” ujat sang menteri.

Hikmah Cerita
Apa pun pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita, harus diselesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. menunda pekerjaan seperti PR atau lainnya berarti membuang waktu dan menambah beban

Sumber : http://ceritaislami.net/memunda-pekerjaan-sama-dengan-membuat-waktu/

Jaminan Surga bagi orang yang bersedekah

Jaminan-Surga-bagi-orang-yang-bersedekah

Hikmah – Cerita islami, Habib Abi Muhammad adalah orang saleh yang selalu menunaikan kewajibannya sesuai perintah Allah serta mengerjakannya berdasarkan hadits Rasulullah SAW. Suatu hari, saat mengikuti pengajian di sebuah masjid, Habib Abi Muhammad sangat terenyuh dengan ketulusan Abu Bakar As-Shidiq dalam bersedekah. Tanpa keraguan sedikit pun, ia mengikuti jejak khalifah pertama amirul mukminin dan berkata, “Demi Allah, saya akan memperhatikan apa yang dikerjakan Khalifah Abu Bakar itu dengan hartanya”

Habib Abi Muhammad kemudian membelanjakan sedekah 40.000 dinar ke dalam empat bagian dan berkata, “Demi Allah, saya membeli diriku karena Allah sebesar 10-000 dinar” Setelah itu ia berkaia lagi, “Demi Allah, aku bersyukur karena aku telah mendapatkan hidayah untuk bersedekah. Maka aku keluarkan sedekah lagi sebesar 10.000 dinar”

Untuk menambah keyakinan setelah dua kali bersedekah, Habib Abi Muhammad mengulang sedekahnya dan berkata, “Ya Allah, terimalah sedekah pertama dan kedua hambamu ini. Sebagai bentuk terimakasih, hamba sedekahkan lagi 10.000 dinar unruk yang ketiga kalinya”

Setelah merasa tenang, Habib Abi Muhammacl berkata kembali, “Demi Allah, hamba menyedekahkan ke empat kalinya sebesar 10.000 dinar sebagai penyempurnaan sedekah-sedekah yang terdahulu. Semuanya itu karena Allah, bukan karena pujian.

Hikmah cerita di atas :

Melakukan sedekah dengan niat karena Alloh adalah perbuatan yang terpuji. Hal itu dilakukan oleh orang-orang saleh dan penghuni surga, seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar As-Shidiq dan Habib Abi Muhammad. Bagi mereka yang tulus melakukannya, Alloh telah memberikan surga sebagai jaminannya.

sumber : http://ceritaislami.net/jaminan-surga-bagi-orang-yang-bersedekah/